
”Awalnya usaha lumayan mas satu bulan bisa produksi 60-90 jaket.” Setelah pasar agak sepi ia beralih membuka jasa pemrosesan kulit mentah domba kambing untuk dihilangkan bulunya dengan jasa Rp.4.000,- untuk kulit sapi per fitnya Rp.2.300,-. Sekarang pria ini lagi mengembangkan pengolahan kulit mentah menjadi bahan jaket tas dan sepatu dengan sasaran pasarnya di jawa tengah dan Bali. Dengan harga per fitnya yang domba Rp.14.500,- kambing Rp.9.000,- produk perbulannya mencapai 10.000 fit.
Hal ini dilakukan dengan memberdayakan masyarakat setempat sebanyak 13 karyawan dan bermodal sendiri begitu kilahnya. Pria berumur 51 tahun yang berputra 4 ini dengan 2 sarjana yang masih di bangku kuliah di fakultas kedokteran. “Saya sendiri lulusan S-2 mas, alias tamatan SD dan SMP .” begitu candanya. Kalau pekerjaan lagi sepi, pria ini juga menerima jasa pengelolaan kulit mentah untuk di jadikan cecek / kikil bahan untuk rambak dan rujak petis dengan ongkos per kg Rp.1500,-.
“Dulu di era orde baru sampai reformasi Bu Megawati, masih sering saya mendapat undangan seminar tentang pengembangan usaha kecil sehingga menambah ilmu dan pengetahuan saya. Dan saya mendapatkan hubungan semakin dan mitra kerja yang luas “ tukasnya. Pria yang pengusaha ini mempunyai harapan kepada pemerintah yang sekarang ini agar supaya memberi perhatian pada pengusaha kecil sebagai pengembang ekonomi kerakyatan agar nantinya dapat berkembang lebih maju dalam menghadapi era global.

















Semoga bisa menjadi tokoh teladan dan bisa menginspirasi banyak orang di lingkugannya…