Home » Agama » Peranserta Masyarakat Yang Dicontohkan Para Nabi

Peranserta Masyarakat Yang Dicontohkan Para Nabi


Topik: , ,
Share:

Mungkin banyak masyarakat Kabupaten Malang yang berpendapat bahwa peranserta masyarakat di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hanya terjadi dijaman modern ini, atau lebih populernya dijalan reformasi dan globalisasi.

Hal ini merupakan suatu pendapat yang keliru dan perlu diluruskan. AlQur’arn yang diwahyukan kepada Nabiyullah Muhammad SAW sekitar 1431 tahun yang lalu telah memberikan banyak gambaran tentang peranserta masyarakat baik didalam kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan bernegara, bahkan dalam kehidupan keimanan kepada Allah SWT sekalipun.

Sebagai seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, tentunya kita semua berkewajiban untuk membaca dan mempelajari perintah dan larangan Allah dalam menjalani kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di dalam AlQur’an diperintahkan untuk menjalani kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara santun. Santun dalam berkeluarga, santun dalam bermasyarakat, santun dalam berbangsa dan santun dalam bernegara merupakan perwujudan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Nabiyullah Adam, sebagai manusia pertama dibumi telah memberikan contoh santun dalam kehidupan berkeluarga. Beliau mengajarkan kepada isteri dan anak anaknya untuk selalu menaati perintah Allah yang telah memberikan kenikmatan kehidupan dunia. Ketika beliau terjebak dalam godaan iblis melalui isterinya sehingga harus keluar dari surga, tidak satupun makhluk yang disalahkannya kecuali dirinya sendiri. Kemudian beliau hanya bermunajat mohon ampunan, maka Allah segera mengampuninya dengan konsekwensi harus menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.

Nabiyulllah Nuh memberikan contoh santun dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Beliau mengajarkan kepada isteri dan anak anaknya untuk selalu menaati perintah Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka. Demikian juga kepada masyarakat yang menjalani kehidupannya secara keliru, dengan santun beliau memberikan peringatan secara santun. Kemudian ketika peringatannya tidak mendapat respon positif, maka Allah memberikan hukuman kepada masyarakat yang menjalani kehidupannya secara keliru termasuk salah satu anaknya.

Nabiyullah Ibrahim memberikan contoh santun dalam kehidupan berkeluarga dan bernegara. Karena adanya perbedaan pendapat dengan bapanya sendiri, maka beliau berpisah dengan bapanya sendiri dan tetap akan mendoakn bapanya sebagai kewajiban seorang anak kepada orangtuanya. Dalam kehidupan bernegara, beliaupun secara santun memberikan peringatan kepada rajanya yang mengaku sebagai Tuhan selain Allah. Perbedaan pendapat antara nabiyullah Ibrahim dengan raja menyebabkan beliau mengungsi ke negeri Mesir atas petunjuk Allah SWT.

Nabiyullah Musa memberikan contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara santun. Ketika tindakan Fir’aun telah melampaui batas terhadap bangsa Israel yang berada di Mesir, maka beliaupun menghadap dan berbicara secara santun kepada raja Mesir tersebut agar kembali kejalan yang benar. Oleh karena Fir’aun tidak memberikan respon positif kepada nabiyullah Musa, maka Allah memberikan hukuman kepada raja Mesir dengan menenggelamkannya di Laut Merah.

Demikian pula dengan nabiyullah Dawud, nabiyullah Isa dan nabiyullah Muhammad. Semuanya memberikan contoh santun dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh yang sangat drastispun diberikan dalam kehidupan bertaqwa kepada Allah Tuhan Pencipta Alam yang berkuasa atas segala sesuatu, yaitu diberikannya kesempatan untuk memberikan peringatan secara santun ketika iman melakukan kekeliruan dalam memimpin sholat wajib dengan cara membaca “subhanallah” bagi laki laki dan bertepuk tangan bagi seorang perempuan.

Kesimpulannya, bagi orang orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT akan selalu terlihat adanya demokrasi dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bahkan dalam kehidupan peribadatan kepada Allah sekalipun.

Oleh karena itu sangat diharapkan adanya komunikasi timbal balik secara adil diantara orang orang yang beriman dalam menjalani kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peranserta masyarakat bukanlah disampaikan karena kebencian, akan tetapi peranserta masyarakat merupakan wujud demokrasi didalam kehidupan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT sebagaimana dimaksud dalam firman Alllah SWT agar kita selalu berpesan pesanan dalam kebenaran dan berpesan pesanan didalam kesabaran. Berpesan pesanan dalam kebenaran dan kesabaran bagi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah merupakan jaminan bahwa kehidupan yang dijalani didunia ini bukan merupakan kerugian.



Bila Anda keberatan atau ingin memberi koreksi terhadap content di Lawang Post, jangan ragu untuk menghubungi kami.


Berlangganan via E-mail

Masukkan E-mail Anda:


Facebook

Komentar

  • kartikasari: Berkat Bpk AIDU TAUHID.SE. M.Si. Pengangkatan Guru Honorer Melalui Jalur Khusus di BKN Pusat...
  • rizza: saya dari umum mau tanya gimana cara gabung trims
  • nx broo: Shidiqin = satrio pinandito setara Rasul Bani Israil setara Ghautsul Adhom Hadzazzaman v Cirinya menduduki...
  • ensabahnur999: Federasi Ceylon: Chyren Selin (dajjal) sebagai avatar Brahma. lautan bermuda. Rudra Chakrin (kalki...
  • Pangeran Pamcasari: Setelah Pak Jokowi terpilih, Apakah beliau ini Satria Piningit?