Home » Editorial » Mutiara Ibu Pertiwi yang Hilang: PANCASILA

Mutiara Ibu Pertiwi yang Hilang: PANCASILA


Topik: , , , , ,
Share:

Pancasila adalah sebuah ideologi bangsa Indonesia yang dianggap telah merepresentasikan jati diri negeri ini. Pernah juga dianggap sebagai ideologi sempurna karena keberhasilannya menyatukan ratusan etnis bangsa ini. Namun sayangnya, semakin hari eksistensi pancasila mulai pudar. Carut marut bangsa ini menjadi bukti nyata hilangnya kesaktian sang garuda, dan mutiara Ibu pertiwi ini seakan hilang ditelan perubahan zaman. Lantas, masihkah kita butuh pancasila?

Pendiri bangsa ini telah menyatukan seluruh nilai luhur yang dimiliki Indonesia dan menuliskannya dalam Pancasila. Berisikan lima sila atau asas yang masing-masing sangat berkaitan erat, Pancasila telah mampu menjelma sebagai Ideologi yang sempurna tanpa celah. Pancasila kian dikuatkan eksistensinya ketika Soeharto menjadi kepala negara. Upaya pengilhaman pancasila dilakukan dengan menyisipkan nilai-nilai setiap sila ke dalam pendidikan bangsa. Kemudian mewajibkan semua lembaga Indonesia untuk memasang logo garuda, sebagai bentuk represi agar kita semua selalu ingat dan bangga akan kehadiran ideologi ini. Runtuhnya era orde baru menjadi titik dimana pancasila memasuki masa kelamnya.

Pendidikan yang menjadi titik sentral untuk melakukan doktrinasi pancasila mulai berganti kurikulumnya. Di sekolah dasar pendidikan pancasila hanya menjadi pendidikan moral, untuk sekolah menengah pertama pendidikan ini menjadi pendidikan kewarganegaran yang lebih mengajarkan ilmu pemahaman sistem kepemerintahan, tak jauh beda halnya dengan sekolah menengah atas. Memasuki tingkat perguruan tinggi, ideologi ini mulai hilang dan kalah bersaing dengan ideologi barat. Satu-satunya kesempatan pancasila bersuara hanya ada di saat upacara bendera dan kenegaraan, itu pun hanya sebatas pembacaan lima sila. Hingga pada akhirnya generasi muda kita mulai lupa dengan pancasila, jangankan dengan nilai luhurnya, untuk mengahafal kelima sila dari pancasila saja mulai kikuk. Maka sebagai konsekuensi logis, kita menjadi hilang arah, berjalan limbung entah kemana, mengikuti arus globalisasi yang kian menghilangkan batasan kebudayaan setiap negara.

Semakin hari semakin rapuh saja bangsa ini. Berita kriminal, pembunuhan, korupsi, dan tindak kejahatan selalu menghiasi headline setiap media massa. Pertentangan umat beragama, pertikaian antar suku juga tak kalah nyaring suaranya. Ketidakadilan hukum negara terhadap warga negaranya juga nyata terlihat dikeseharian kehidupan ini, ditambah lagi perang kepentingan politik yang semakin memperkeruh suasana. Semua ini adalah bukti nyata hilangnya ideologi pancasila, dan bagaimana bisa pancasila dianggap sebagai ideologi negara jika warga negaranya tak memahami dan mengimani setiap butir silanya.

Krisis identitas ini sudah saatnya dibenahi, sudah saatnya Indonesia berdiri pada filosofi bernegaranya lagi. Pendidikan nilai pancasila harus kembali masuk dalam kurikulum pendidikan, bukan hanya masalah moral, tapi sejarah dan pemaknaan keluhuran pancasila yang penting. Sudah seharusnya, setiap organisasi yang berdiri di Indonesia ini mulai berjalan atas dasar pancasila, bahkan partai politikpun wajib menjadikan nilai pancasila sebagai acuan berpolitik. Sudah saatnya Pancasila dibangunkan dari tidurnya, dan sekali lagi membawa bangsa ini menjadi bangsa yang luhur. Ketika hal ini terjadi, air mata ibu pertiwi akan terhenti, dan mutiaranya akan bersinar kembali.

Muhammad Subkhan,
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unair



Bila Anda keberatan atau ingin memberi koreksi terhadap content di Lawang Post, jangan ragu untuk menghubungi kami.


Berlangganan via E-mail

Masukkan E-mail Anda:


Facebook

Komentar

  • kartikasari: Berkat Bpk AIDU TAUHID.SE. M.Si. Pengangkatan Guru Honorer Melalui Jalur Khusus di BKN Pusat...
  • rizza: saya dari umum mau tanya gimana cara gabung trims
  • nx broo: Shidiqin = satrio pinandito setara Rasul Bani Israil setara Ghautsul Adhom Hadzazzaman v Cirinya menduduki...
  • ensabahnur999: Federasi Ceylon: Chyren Selin (dajjal) sebagai avatar Brahma. lautan bermuda. Rudra Chakrin (kalki...
  • Pangeran Pamcasari: Setelah Pak Jokowi terpilih, Apakah beliau ini Satria Piningit?