Home » Editorial » Antara Bencana, Tamu dan Konferensi G-20

Antara Bencana, Tamu dan Konferensi G-20


Topik: , , , ,
Share:

Jika dalam rumah tangga anda mengalami persoalan ada genteng ambruk, ada tamu dan kemudian ada undangan dari pak RT untuk membicarakan sesuatu yang penting bagi kampung, apa yang akan anda perbuat? Tentu anda bingung kan? Karena anda akan disudutkan untuk memilih sesuatu yang paling baik diantara pilihan yang jelek, akibatnya anda akan menuai kritikan dari keluarga anda.

Demikian pula yang terjadi pada presiden kita, sebagai Kepala Pemerintahan dan Pembangunan beliau juga mendapat hal yang sama dengan anda. Ada bencana tsunami di Mentawai dan meletusnya gunung Merapi, ada tamu dari negeri adikuasa Barrack Obama dan ada undangan untuk mengikuti konperensi tingkat tinggi. Semuanya mengharapkan adanya perhatian khusus dari presiden, tentu saja hal ini sedikit banyak akan membuat beliau berpikir secara bijak. Hasilnya sungguh luar biasa, presiden bisa mengadakan kunjungan ke tempat bencana alam terjadi dan memberikan petunjuk seperlunya, beliau juga bisa menerima tamu istimewa dan beliau juga masih dapat menghadiri acara yang sangt penting bagi negara ini kedepan. Sangat bijak dan sangat luar biasa untuk dilakukan oleh seorang manusia biasa.

Barrack Obama adalah tamu yang sangat istimewa bagi bangsa dan negara ini, karena beliau pernah hidup di negeri ini walaupun tidak lama. Beliau juga adalah seorang presiden dari negara adi kuasa dan merupakan seorang kulit hitam yang pertama menjadi presiden USA.
Banyak orang berharap agar beliau bisa memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan Indonesia dikanca internasional kedepan, baik dibidang ekonomi, perdagangan maupun pertahanan dan keamanan. Namun semuanya itu hanyalah harapan semua orang Indonesia yang menginginkan adanya perbaikan bagi negaranya ke depan. Semua jawaban tergantung pada kiprah dan kemampuan bangsa Indonesia sendiri untuk menjawab tantangan jaman globalisasi.

Soal bencana alam yang terjadi di Indonesia, terutama di Mentawai dan Jawa Tengah adalah persoalan yang memerlukan penanganan yang lebih komprehensif agar nantinya lebih dapat dikendalikan agar tidak membawa korban banyak. Sebagai negara kepulauan yang terletak didua samudera, tentu sudah dapat dideteksi akan adanya kerawanan bencana alam yang akan terjadi. Demikian pula dengan banyaknya gunung berapi juga akan membawa persoalan tersendiri, karena gunung berapi yang meletus adalah di luar kekuasaan manusia. Bencana adalah takdir Tuhan yang mencaiptakan langit dan bumi, sehingga apapun bencana yang terjadi hendaknya disikapi dengan secara arif dan bijaksana, agar tidak menjadikan polemik berkepanjangan.

Bencana disatu sisi merupakan kesempatan bagi mereka yang dikaruniai rejeki lebih agar dapat membaginya kepada saudara sebangsanya yang terkena musibah. Disisi lain juga merupakan suatu peringatan bagi semua agar meneropong dirinya, mungkinkah hal ini terjadi karena ada kesalahan yang kita perbuat?

Akan tetapi bagi ilmuwan atau teknokrat kadang bencana ini hanya dilihat sebagai gejolak alam biasa, sehingga tidak perlu dihubungkan dengan berbagai kepercayaan yang ada dan dipercaya oleh sebagian masyarakat lainnya. Apalagi meletusnya gunung Merapi, tentu akan membawa fenomena ersendiri bagi masyarakat Jawa yang kebanyakan masih kental dengan berbagai hal yang berbau kebudayaan kuno.

Konferensi negara negara G-20 adalah juga sangat penting bagi nasib bangsa dan negeri ini kedepan, karena dengan berbagi bersama negara negara lainnya didunia ini, niscaya akan didapatkan kepercayaan yang sangat besar yang akhirnya membawa bangsa dan negara ini menjadi negara maju.

Tiga hal yang harus kita pikirkan secara arif, karena ketiganya datangnya bersamaan. Ketika kita disibukkan dengan masalah bencana, ada tamu yang harus kita terima dan ada undangan konperensi tingkat tinggi yang harus dihadiri. Untunglah bangsa Indonesia mempunyai seorang presiden yang dapat berpikir jernih menyelesaikan ketiga hal itu dengan sangat arif dan bijaksana.

Sebagai rakyat sebaiknya kita meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Tuhan serta bekerja keras untuk mencapai tujuan hidup. Berdoa dan bekerja adalah dua hal yang harus selalu kita sandingkan bersama. Berdoa tanpa bekerja dan bekerja tanpa berdoa akan menjadikan kehidupan kita menjadi hambar, apalagi ketika kita menerima hal hal yang diluar kekuasaan kita. Dalam menyambut hari raya idul adha atau hari raya qurban ini, marilah kita sebagai bangsa Indonesia mengorbankan sebagian dari harta benda untuk menolong saudara saudara kita yang sengsara karena tertimpa bencana. Mari kita singsingkan lengan baju dan kita rapatkan barisan untuk berbuat yang terbaik bagi mereka. Semoga kita semua akan dapat melakukan yang terbaik.



Bila Anda keberatan atau ingin memberi koreksi terhadap content di Lawang Post, jangan ragu untuk menghubungi kami.


Berlangganan via E-mail

Masukkan E-mail Anda:


Facebook

Komentar

  • kartikasari: Berkat Bpk AIDU TAUHID.SE. M.Si. Pengangkatan Guru Honorer Melalui Jalur Khusus di BKN Pusat...
  • rizza: saya dari umum mau tanya gimana cara gabung trims
  • nx broo: Shidiqin = satrio pinandito setara Rasul Bani Israil setara Ghautsul Adhom Hadzazzaman v Cirinya menduduki...
  • ensabahnur999: Federasi Ceylon: Chyren Selin (dajjal) sebagai avatar Brahma. lautan bermuda. Rudra Chakrin (kalki...
  • Pangeran Pamcasari: Setelah Pak Jokowi terpilih, Apakah beliau ini Satria Piningit?